Kunci Sukses Entrepreneurship

Posted: 22 Februari 2012 in Umum
Tag:, , , , , , , ,

Dalam membangun sebuah bisnis usaha di perlukan kecakapan atau talenta yang cukup untuk mendukung seluruh kinerja mulai sebelum dan usaha itu berdiri sampai kiat-kiat untuk mempertahankan dan  mengembangkannya, dalam hal manajemen, monitoring sampai evaluasi. IQ, EQ, dan SQ sangatlah berkaitan, karena memang ketiga komponen tersebut  merupakan modal utama untuk membangun sebuah bisnis usaha, tetapi pada kenyataannya banyak sekali orang yang membangun usahanya dengan  melupakan dan menyepelekan kekuatan spiritual (SQ) yang pada dasarnya hanya dengan jalan inilah seorang entepreneur mampu mempertahankan usahanya tanpa ada rasa putus asa dan menyesal walaupun dalam implementasi usahanya banyak terdapat rintangan, lebih-lebih ancaman gulung tikarpun di hadapi. Tidak jarang para pengusaha mulai stres lalu bunuh diri karena harus menutup usahanya karena masalah-masalah di atas, oleh sebab itu urgensi dari kekuatan spiritual inilah mulai berperan sebagai penyeimbang antara Intelektual dan Emotional Quetion yang di butuhkan oleh seseorang yang akan membangun usahanya.

  1. Soichiro Honda yang bergerak di bidang otomotif. Kiat-kiat dan modal dalam berbisnisnya :
  1. Ulet, teliti, kerja cepat dan cekatan
  2. Selalu menerima tawaran yang di tolak oleh perusahaan lain
  3. Kreatif dengan inovasi-inovasi baru yang belum ada sebelumnya
  4. Menspesialisasikan bidang usaha
  5. Selalu berambisi dan berjiwa muda
  6. Menghargai teori yang sehat, menemukan gagasan baru, dan mengkhususkan waktu untuk memperbaiki produksi
  7. Menyenangi pekerjaannya dan mengusahakan membuat kondisi kerja senyaman mungkin
  8. Mencari irama kerja yang lancar dan harmonis
  9. Selalu mengingat pentingnya penelitian dan kerja sama
  10. Yang paling utama adalah tidak putus asa dalam kegagalan.

Dari kesemua itulah, kami rasa hal yang paling kompleks dalam kiat-kiat dan modal untuk membangun sebuah bisnis usaha, dari semua aspek kategori di dapatnya IQ,EQ, dan SQ, tetapi kiat EQ-nya yang cukup cerdik untuk berusaha menguasai pangsa dengan menerima semua tawaran yang di tolak oleh perusahaan lain dan berusaha untuk mengkhususkan waktu untuk memperbaiki produksi dan menyelesaikannya dengan cepat dan teliti, sehingga keprofesionalan dalam bekerja ia dapat.

  1. A. Start-Up

Soichiro Honda, nama yang sudah tidak asing lagi di telinga kita dengan beberapa maha karyanya yang begitu mengagumkan hingga saat ini dengan merintis dan mengembangkan perusahaan motor di Jepang bahkan di beberapa negara maju. Keuletan dan ketelatenan tangan dinginnnya usahawan otomotif ini dapat sukses sampai saat ini walaupun pada awalnya tidak pernah ada di benaknya untuk menjadi seorang usahawan otomotif karena memang ia sadar dari keluarga miskin, apalagi fisiknya lemah, tidak tampan, sehingga membuatnya rendah diri. Meskipun begitu ia tetap menaruh harapan-harapan besar akan mimpi-mimpinya, di mulai dengan ia bekerja pada sebuah perusahaan Hart Shokai Company pada usia 15 tahun dan mampu membuat kagum Saka Kibara (sang bos) dengan cara kerjanya yang teliti dan cekatan dalam soal mesin. Dengan ia bekerja di situ selama 6 tahun sekaligus menambah wawasannya tentang permesinan akhirnya pada usia 21 tahun ia di percaya untuk membuka cabang di Hamamatsu atas tawaran bosnya. Sejak dengan cabang usaha ini ia berusaha untuk menerima reparasi yang di tolak oleh bengkel lain. Sejak usia 30 tahun Honda menanadatangani patennya yang pertama.

B. Development

Setelah menciptakan ruji, Honda ingin melepaskan diri dari bosnya, membuat usaha bengkel sendiri. Ia mulai berpikir, spesialis apa yang dipilih? Otaknya tertuju kepada pembuatan Ring Pinston, yang dihasilkan oleh bengkelnya sendiri pada tahun 1938. Sayang, karyanya itu ditolak oleh Toyota, karena dianggap tidak memenuhi standar. Ring buatannya tidak lentur, dan tidak laku dijual. Ia ingat reaksi teman-temannya terhadap kegagalan itu. Mereka menyesalkan dirinya keluar dari bengkel. Setelah kejadian itu ia jatuh sakit cukup serius, dan setelah dua bulan kesehatannya pulih dan kembali memimpin bengkelnya. Tapi, soal Ring Pinston itu, belum juga ada solusinya. Demi mencari jawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang mesin. Siang hari, setelah pulang kuliah – pagi hari, ia langsung ke bengkel, mempraktekan pengetahuan yang baru diperoleh. Berkat kerja kerasnya, desain Ring Pinston-nya diterima. Beberapa kali ia mengalami pasang surut kemajuan usahanya di sebabkan beberapa faktor, tetapi ia tetap tak kehabisan akal.

C. Consolidation

Setelah ia mampu menambus penjualan ring pinstonnya. Pihak Toyota memberikan kontrak, sehingga Honda berniat mendirikan pabrik. Malangnya, niatan itu kandas. Jepang, karena siap perang, tidak memberikan dana. Ia pun tidak kehabisan akal mengumpulkan modal dari sekelompok orang untuk mendirikan pabrik. Lagi-lagi musibah datang. Setelah perang meletus, pabriknya terbakar dua kali. Namun, Honda tidak patah semangat. Ia bergegas mengumpulkan karyawannya. Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh kapal Amerika Serikat, digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik. Tanpa diduga, gempa bumi meletus menghancurkan pabriknya, sehingga diputuskan menjual pabrik Ring Pinstonnya ke Toyota. Setelah itu, Honda mencoba beberapa usaha lain. Sayang semuanya gagal. Akhirnya, tahun 1947, setelah perang Jepang kekurangan bensin. Di sini kondisi ekonomi Jepang porak-poranda. Sampai-sampai Honda tidak dapat menjual mobilnya untuk membeli makanan bagi keluarganya. Dalam keadaan terdesak, ia memasang motor kecil pada sepeda. Siapa sangka, “sepeda motor” – cikal bakal lahirnya mobil Honda – itu diminati oleh para tetangga. Mereka berbondong-bondong memesan, sehingga Honda kehabisan stok. Disinilah, Honda kembali mendirikan pabrik motor. Sejak itu, kesuksesan tak pernah lepas dari tangannya. Motor Honda berikut mobilnya, menjadi “raja” jalanan dunia, termasuk Indonesia.

D. Plateau

Setelah sekian lama ia merintis usahanya mulai dari bekerja di bengkel sampai punya perusahaan sendiri hingga ia sukses dan kaya raya, tapi kehidupannya bahkan rumahnyapun tidak lebih sederhana seperti orang jepang pada umumnya. Juga untuk mendidik anak-cucunya ia juga tak meninggalkan warisan sepeserpun buat anak-anaknya karena ia menganggap hal itu hanyalah pembodohan bagi anak-anaknya dengan memanjakan mereka tanpa ada usaha yang tampak. Menurut Honda, dalam berbisnis janganlah melihat keberhasilan dalam usahanya. Tapi lihatlah kegagalan-kegagalan yang dialaminya. “Orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen. Tapi, mereka tidak melihat 99% kegagalan saya”, tuturnya. Ia memberikan petuah ketika kita mengalami kegagalan, yaitu mulailah bermimpi, mimpikanlah mimpi baru.

  1. Dalam membangun sebuah usaha setiap orang yang ingin sukses dalam usahanya pasti punya trik-trik dan langkah-langkah tersendiri dalam mengolah usahanya. Menurut pribadi saya langkah dan trik ideal yang harus di lakukan untuk memulai usaha adalah :
  • Berani berbuat dan memulai lebih dulu tanpa harus merisaukan pengaruh-pengaruhnya, karena hal ini akan menggagalkan rencana cemerlang kita “I Can If I Think Can Do It”. Karena menurut saya dalam berwirausaha pasti ada tahap evaluasi dan itu di lakukan setelah rencana kita terealisasi.
  • Setelah usaha di bangun, usahakanlah untuk bekerja seefisien dan seefektif mungkin untuk membangun keprofesionalan dan kepercayaan khalayak pada kinerja usaha yang kita bangun serta paham akan kebutuhan pelanggan/konsumen.
  • Memiliki sifat kepemimpinan dan gaya kepemimpinan yang unik serta menciptakan kondisi kerja sesantai mungkin tanpa mengabaikan keseriusan dalam bekerja
  • Melebarkan sayap dengan menjalin relasi dan partner kerja, karena hal ini sangat di butuhkan demi kelancaran dan keberlangsungan usaha kita jika terdapat masalah-masalah yang mungkin tidak dapat di lakukan oleh usaha kita sendiri dalam hal materi maupun finasial, juga bisa sebagai sarana bertukar pendapat tanpa harus memberikan apa yang menjadi “rahasia perusahaan” dan ciri khas usaha kita.
  • Setelah semua tercapai baru tahap untuk mempertahankan usaha, dengan cara memutar otak untuk mencari inovasi-inovasi baru dalam berbisnis usaha untuk mempertahankan dan mengembangkan hasil produksi atau jasa yang kita ciptakan dari hasil usaha kita.
  • Yang terpenting dalam berwirausaha adalah membangun kecerdasan spiritual sebagai penyeimbang antara kecerdasan intelektual dan emosional.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s