[Akidah] Akar Masalah Dalam Pluralisme Agama

Posted: 21 Februari 2012 in Umum
Tag:, , , , , , , , , , , , , ,

Pemikiran yang menganggap semua agama itu sama telah lama masuk ke Indonesia dan beberapa negara Islam lainnya. Tapi akhir-akhir ini pikiran itu menjelma menjadi sebuah paham dan gerakan baru yang kehadirannya serasa begitu mendadak, tiba-tiba dan mengejutkan. Ummat Islam seperti mendapat kerja rumah baru dari luar rumahnya sendiri. Padahal ummat Islam dari sejak dulu hingga kini telah biasa hidup ditengah kebhinekaan atau pluralitas agama dan menerimanya sebagai realitas sosial. Piagam Madinah dengan jelas sekali mengakomodir pluralitas agama saat itu dan para ulama telah pula menjelaskan hukum-hukum terkait.

Sebenarnya menurut penulis faham inipun bukan baru. Akar-akarnya seumur dengan akar modernisme di Barat dan gagasannya timbul dari perspektif dan pengalaman manusia Barat. Namun kalangan ummat Islam pendukung paham ini mencari-cari akarnya dari kondisi masyarakat Islam dan juga ajaran Islam. Kesalahan yang terjadi, akhirnya adalah menganggap realitas kemajmukan (pluralitas) agama-agama dan paham pluralisme agama sebagai sama saja. Parahnya, pluralisme agama malah dianggap realitas dan sunnatullah. Padahal keduanya sangat berbeda. Yang pertama (pluralitas agama) adalah kondisi dimana berbagai macam agama wujud secara bersamaan dalam suatu masyarakat atau Negara. Sedangkan yang kedua (pluralisme agama) adalah suatu paham yang menjadi tema penting dalam disiplin sosiologi, teologi dan filsafat agama yang berkembang di Barat dan juga agenda penting globalisasi.

Tetapi dalam diskusi kita pada sore hari ini tidak akan banyak menyangkut beberapa bentuk pemikiran yang di gagaskan oleh banyak kalangan pemikir pluralisme Barat maupun Islam sendiri, karena hal ini akan menjadi pembahasan yang akan sangat panjang dan ribet, lagipula masalah ini juga tidak akan pernah selesai dalam tingkatan pemikir handal sekalipun, mengapa saya mengatakan demikian , karena yang perlu di pahami bersama, menurut penulis adalah bukan bagaimana kita memahami terminologi dari plural itu sendiri, tetapi bagaimana kita memahami konsep relasi ke-Tuhan-an dan agama-agama yang berkembang di dunia, khususnya di Indonesia sendiri, karena bagi penulis, hal inilah yang menjadi akar masalah yang mengantarkan kita, bagaimana proses pola fikir dalam memahami Pluralisme agama itu sendiri, dan kita akan mencoba lebih arif menghadapi masalah “perang” ideologi di kalangan pemikir Barat yang cenderung bebas dan pemikir di kalangan Islam sendiri sekalipun.

Berikut gambar relasi ke-Tuhan-an dan agama-agama yang ada.

Menurut kawan-kawan pembaca dari kedua model gambar di atas :

  1. Mana gambar yang lebih menarik dan lebih bagus juga enak di pandang dengan menggunakan kacamata dan pola pikir anak TK yang iniginnya cuman nyusu, mentil, dan main-main serta kalau ada yang di perebutkan sampai bertengkar bahkan berkelahi?
  2. Bagaimana hubungan relasional yang terjadi antara konsep Tuhan dan konsep Agama menurut pemikiran teman-teman sendiri, dan menurut kacamata HANURA, dan kawan-kawan sebagai mahasiswa yang rata-rata sudah pada dewasa dan tua-tua juga saya yakin dapat menyikapinya dengan lebih bijaksana apabila di kemudian hari terdapat perbedaan dalam meyakini konsep Tuhan dan Agama ini, silakan kawan-kawan berbicara dari sudut pandang manapun, sosiologis, teologis, historis maupun filosofis, atau bahkan jika memang sudak menthok di sini tidak di larang untuk memakai metode Ngawurologi, karena di sini kita sama-sama berproses untuk berfikir dan belajar dengan tujuan mendapatkan kebenaran yang hakiki dengan harapan di tunjukkan pada jalan yang benar munuju ridho Tuhan, bukan pada jalan malioboro yang nantinya kita malah belanja dan hepi-hepi menikmati hidup yang cuman tinggal beberapa hari, bulan bahkan tahun saja……

 

SEMOGA APA YANG PENULIS SAMPAIKAN PADA KALI INI MENDAPATKAN MANFAAT DAN MEMBUKA WACANA-WACANA SERTA CAKRAWALA BARU DAN SUMBANGSIH KITA TERHADAP PEMIKIRAN-PEMIKIRAN BUDAYA BARAT YANG KONON TERLALU BEBAS DAN BUDAYA ISLAM SENDIRI YANG KONON TERGOLONG “KOLOT DAN TERLALU NYANTRI”.

Tetapi sebelum kita mengakhirinya, terlebih dahulu kita perlu bersyahadat ulang bersama-sama untuk kembali pada akidah dasar kita, sebab di khawatirkan wacana yang penulis buat menjadkannya keluar dari Teologi dasar yang di yakni Islam karena dari tadi kita telah lancang “gosip dan ngrasani” Tuhan.

اشهد ان لا اله الا الله واشهد ان محمدا رسول الله

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s