Sedikit Tentang Qunut

Posted: 23 Januari 2012 in Ngaji
Tag:, , , , , , , , ,
  1. 1.      Pendapat Ulama’

Ulama berbeda pendapat tentang masalah Qunut, madzhab Imam Malik memiliki pandangan bahwasanya Qunut di dalam sholat shubuh adalah Mustahab (di anjurkan). Kemudian Imam Syafi’i berpendapat pula bahwa Qunut adalah Sunnah. Sedangkan untuk madzhab imam Abu Hanifah berpandangan bahwa Qunut itu tidak boleh dilakukan dalam sholat shubuh, akan tetapi di lakukan pada sholat witir. Sebagian kalangan ada yang mengatakan bahwa Qunut di lakukan bahkan pada setiap sholat, ada sebagian kalangan lagi yang berpendapat Qunut hanya di lakukan pada saat bulan Romadlon saja. Qunut dalam sholat di bulan Romadlon pun juga ada perbedaan pendapat, ada kalangan yang mengatakan di separuh awal bulan Romadlon, juga ada yang mengatakan di separuh akhir bulan Romadlon.

  1. 2.      Sebab Perbedaan

Perbedaan pandangan Ulama’ di atas mengenai Qunut terletak pada beberapa hadits dari Rosulullah yang di nukil oleh para imam dan beberapa kalangan, juga terletak pada metode ulama’ yang di gunakan, termasuk sebagian sholat yang di qiyas-kan pada beberapa sholat yang lain, maksudnya adalah sholat yang memakai Qunut, di qiyas pada sholat yang tidak memakai qunut.

Abu Umar bin Abdi Al-Barr mengatakan “bahwasanya pada masa-masa awal, qunut dilakukan oleh banyak kalangan untuk mengikuti Rosulullah, yang difungsikan untuk melaknat orang-orang kafir dan mendoakan pada orang kafir dari Qobilah Ri’l dan Qobilah Dzakwan, serta golongan yang membunuh para sahabat di sumur Ma’unah.”

Di sisi lain Sahabat Al-Laits bin Sa’ad juga mengatakan “aku tidak melakukan qunut sejak empat puluh tahun atau empat puluh lima tahun kecuali aku sholat berada di belakang imam yang menggunakan qunut”, dalam kesempatan yang lain, beliau sahabat Al’Laits juga pernah mengatakan “aku menjadikan qunut berdasarkan hadits yang datangnya dari Nabi SAW, bahwasanya beliau Nabi berqunut kurang lebih sebulan atau kurang lebih empat puluh hari untuk mendoakan baik untuk kaumnya yang taat, dan mendoakan jelek (baca:melaknat) untuk kaumnya yang telah ingkar dan fasik” hingga Allah menurunkan ayat al-qur’an kepada beliau Nabi SAW di surat Ali Imron ayat 128 yang artinya :

tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu[1] atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka karena Sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim. (QS.Ali Imron : 128)

Kemudian beliau Rosul tidak pernah melakukan Qunut lagi hingga beliau wafat dan bertemu dengan Allah SWT. Sejak itulah kemudian, Abu Al-Laits juga tidak pernah menggunakan qunut. Demikian pula dengan madzhab Yahya bin Yahya, ada seorang Al-Qodhi[2] berkata “beberapa Syaikh telah mengatakan kepada saya bahwasanya perbuatan ini (baca:qunut) tidak pernah dilakukan di beberapa masjid di negara Cordoba dan hal itu berlaku sejak zamanku sampai zaman terdekatku.”

Hadits yang di riwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Huroiroh, bahwasanya Nabi SAW melakukan qunut di waktu shubuh sampai datangnya ayat quran surat Ali-Imron : 128 diatas, hingga kemudia meninggalkan untuk tidak melakukan qunut. Sedangkan hadits yang di keluarkan oleh Abu Huroiroh menyatakan bahwasanya Nabi SAW melakukan qunut di waktu sholat Dzuhur, Isya’ dan shubuh[3]. Juga di riwayatkan oleh Abu Huroiroh bahwasanya Nabi SAW melakukan qunut dalam sholat shubuh selama sebulan untuk mendoakan atas Bani Ushoyyah.

  1. 3.      Perbedaan Ulama’ Tentang Bacaan Dalam Qunut

Imam Malik menganjurkan bacaan qunut dengan :

اللهم انّ نستعينك ونستغفرك ونستهد يك ونؤمن بك ونخنع لك ونخلع ونترك من يكفرك, اللهم ايّاك نعبد ولك نصلّي ونسجد واليك نسعي ونحفد, نرجو رحمتك ونخاف عذابك انّ عذابك بالكافرين ملحق

Penduduk Iraq memberinya nama dengan sebutan Al-Surotain, kalimat bacaan ini juga di riwayatkan oleh Ubay bin Ka’ab dalam mushafnya.

Imam Syafi’i dan Ishaq qunut dengan kalimat bacaan :

اللهم اهدنا فيمن هديت وعافنا فيمن عافيت وقنا شرّ ما  قضيت انّك تقضي ولايقضى عليك تباركت ربّنا وتعاليت[4]

Dan kalimat bacaan ini juga di riwayatkan oleh Imam Al-Hasan bin Ali dari beberapa hadis tsabit “bahwa sesungguhnya Nabi SAW mengajarkan doa ini untuk qunut dalam sholat”

Sedangkan Abdullah bin Dawud berpendapat dan mengatakan “barangsiapa yang tidak qunut dengan Al-Surotain, maka tidak boleh sholat di belakangnya”. Dan ada kalangan yang berpandangan bahwa tidak ada kalimat bacaan yang pasti dan tertentu dan qunut.


[1] Menurut riwayat Bukhari mengenai turunnya ayat ini, karena Nabi Muhammad s.a.w. berdoa kepada Allah agar menyelamatkan sebagian pemuka-pemuka musyrikin dan membinasakan sebagian lainnya.

[2] Dalam fiqh, bila di sebutkan dalam kitab-kitab mutaakhirin, yang di maksud adalah Husain bin Muhammad bin Ahmad Al-Marwazi (wafat 462 H). Beliau termasuk Ashabul Wujuh. Ketika di sebut dalam kitab-kitab Mutaqoddimin yang di maksud adalah Al-Qodli Abu Hamid Al-Marwarudzi, pengarang syarah Mukhtashor al-Muzanni

[3] Shohih Muslim (296/676)

[4] Shohih Abu Dawud (1425) dan At-Turmudzi (464)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s