Sekelumit Tentang ‘Ingat’

Posted: 19 Januari 2012 in Ngaji
Tag:, , , , , , ,

فاذكروني اذكركم واشكرولي ولاتكفرون

152. karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu[1], dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.[2]

 

Dalam karyanya, beliau Syaikh Nawawi Banten, menjelaskan tentang kalimat Udzkur yang bermakna ingat kepada Allah dengan mengkategorikan bentuk ingat terbagi menjadi tiga macam, yang pertama bentuk ingat dengan menggunakan lisan atau dengan kalimat yang berbentuk ucapan, kedua ingat dengan menggunakan hati, dan ketiga yakni ingat dengan anggota badan maksudnya dengan bentuk gerakan. Dan sholat merupakan ibadah yang mengandung dari keseluruhan bentuk ingat tersebut. Kemudian Syaikh Nawawi juga menggambarkan dan merinci bagaimana sholat menjadi bagian ibadah yang termasuk dalam ketiga bentuk ingat. Pertama, dalam sholat terdapat bacaan-bacaan tasbih dan takbir, dua kalimat ini di kategorikan dalam bentuk ingat dengan lisan. Kedua, yakni unsur khusuk (baca:konsentrasi), dan merenungkan makna ayat-ayat al-quran yang di baca saat sholat (Tadabbur Quran) merupakan kategori ingat dengan menggunakan hati (Qolb). Dan yang terakhir adalah gerakan-gerakan dalam sholat seperti rukuk dan sujud merupakan kategori ingat kepada Allah menggunakan anggota badan (Jawarih) dengan bentuk gerakan. Jadi bisa di katakan bahwa saat Allah memerintah kita untuk selalu ingat kepada-Nya dengan berfirman fa al-adzkuruni (maka ingatlah kalian semua kepada-Ku), berarti Allah telah memerintahkan kepada kita untuk ingat dengan tiga kategorisasi seperti yang di sampaikan oleh Syaikh Nawawi, maka hanya dengan sholat kita bisa melaksanakan kesemuanya. Juga bisa di simpulkan, bahwa saat Tuhan memerintah untuk ingat, berarti Allah secara tidak langsung memerintahkan kepada kita untuk beribadah kepada-Nya, malalui sholat yang di perintahkan (baca:wajib). Akan tetapi dalam pemaknaan ingat yang di manifestasikan kepada sholat di sini tidak melulu terpaku hanya kepada sholat wajib saja, namun kepada pekerjaan-pekerjaan yang bersifat Ubudiyyah / penyembahan / pengagungan kepada Allah SWT pun juga menjadi unsur lain dalam mengingat Tuhan, artinya sholat yang bersifat sunnah pun juga menjadi perantara untuk mengingat Tuhan. Demikian pula di sampaikan oleh Imam As-Suyuthi dalam tafsir Jalalain-nya, beliau mengungkapkan bahwa pemaknaan ingat kepada Allah juga dimanifestasikan kepada sholat dan tasbih.

Dalam hal ini, Allah juga berjanji bagi seorang hamba yang “mau” mengingat-Nya, bahwa barangsiapa yang ingat kepada-Ku, maka niscaya Aku akan ingat (pula) kepadanya, seperti yang telah di firmankan Allah pada ayat di atas. Nah, tentunya sifat ingat yang dimiliki oleh Allah sebagai Kholiq (pencipta) berbeda dengan ingat yang dimiliki oleh hambanya (baca:makhluk/manusia), jika sifat ingat yang di miliki oleh seorang hamba kepada Tuhannya dimanifestasikan kepada sholat, disini Allah memberikan sifat ingat-Nya kepada manusia berupa Ihsan (kebaikan / kebagusan), Rahmat (belas kasih sayang), juga kenikmatan yang di berikan didunia maupun diakhirat. Dalam ayat itu pula Allah juga memerintah kepada kita untuk senantiasa bersyukur atas nikmat yang telah dikaruniakan, serta dilarangnya untuk kufur nikmat. Sebagaimana telah dijelaskan pula oleh Syaikh Nawawi yang menafsirkan arti syukur di atas dengan cara sikap taat kita sebagai hamba kepada Allah akan segala apa yang menjadi perintah dan yang menjadi larangan-Nya.


[1] Maksudnya: aku limpahkan rahmat dan ampunan-Ku kepadamu.

[2] Al-quran QS. Al-Baqoroh : 152

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s