Menyoal Tentang Seks

Posted: 19 Januari 2012 in Umum
Tag:, , , ,

Berbicara tentang “Penjaja” atau pelacur, kita tidak lepas dengan istilah seks, dimana seks sudah menjadi kebutuhan manusia untuk bisa tetap bertahan hidup dan mempertahankan/meneruskan keturunan, lebih dekat dengan istilah nafsu, seperti makan, minum, dsb, akan tetapi kemudian ini mengalami penyempitan makna seiring mindset yg terbentuk oleh manusia, yakni hanya dipandang sebagai pemenuhan kebutuhan biologis melalui aktifitas menyalurkan hasrat libido. Seks di anggap sebagai sebuah hal yang masih rahasia dan di anggap tabu oleh semua kalangan untuk dibicarakan secara bebas dan umum, tidaklah lucu seandainya ada seseorang yang kemudian menceritakan “aktifitas hubungan”nya sendiri kepada khalayak baik lelaki maupun perempuan.

Tetapi berbeda saat seks sudah menjadi kata benda dan berubah menjadi seksualitas, ini akan menjadikan sebuah komoditas yang akhirnya menjadi sebuah pembicaraan dan konsumsi publik, bahkan tak ayal kegiatan seminar, workshop atau bahkan konsultasi tentang sekspun beredar di surat kabar, majalah atau koran (saya yakin pembaca lebih tau tentang itu, saya masih lugu ). Kegiatan seminar maupun workshop tak jarang diadakan di hotel berbintang dengan nuansa tersendiri, hampir-hampir bisa dibilang eksekutif. Keingintahuan dari para peserta yang luar biasa dan besar, mulai dari start sampai finish. Pada akhirnya seks merupakan hal yang menggiurkan, apalagi dalam kegiatan bisnis. Praktek ekonomi dengan tema besar sekspun giat di tampilkan sebagai konsumsi publik, sampai kepada akad jual beli yang di anggap sah oleh sebagian masyarakat, mulai dari orang pinggiran yang terkesan katrok, pejabat pemerintah yang tau akan hukum dan aparat keamanan yang bertugas mengamankan. Lebih dari itu, eksistensi dari praktek jual-beli tidak mandeg hanya sekedar antara dua orang saja yang bertransaksi, efek dan implikasi dari itupun menjalar kepada praktek ekonomi yang lain. Anggapan tentang adanya peluang usaha baru mulai menggurita, juga di pandang mempunyai pangsa pasar yang jelas dan pasti. Diskotik, bar, cafe dan tempat-tempat hiburan yang lain mulai marak didirikan, dan setiap hari hampir bisa dipastikan ada pengunjung. Laki-laki dan perempuan berjubel menjadi satu, ada yang hanya sekedar mencari hiburan semata, dan juga ada yang mencari kenikmatan sesaat, mabuk, berjudi, sampai kepada transaksi jual beli narkoba dan “penjaja”. Ini fenomena yang tak dapat kita pungkiri keberadaannya. Memperhatikan itu semua kini juga sudah mulai terlihat para pelaku bisnis yang lain turut mengambil keuntungan, mulai dari pembangunan tempat penginapan seperti hotel, wisma “remang-remang” dengan kelas melati sampai berbintang, yang terkadang juga menyediakan fasilitas khusus untuk mereka yang telah bertransaksi tanpa harus mempedulikan sisi keamanan dari aparat. Tak ketinggalan pula orang ketiga yang menjadi perantara transaksi juga turut andil dan mengambil manfaat, germo dengan berbagai istilahnya, ambil contoh sebutan “mami” yang sering juga memperantarai antara pembeli dan “penjaja” dengan keuntungan tertentu entah dengan sistem bagi hasil atau sudah ada perjanjian di awal tentang berapa persen buat si “mami”. Jelas melihat fenomena di atas, sangat riskan disisi keamanan dari aparat penegak hukum, seperti polisi dan pihak lain yang turut andil, akan tetapi terkadang juga ada oknum yang menjamin keselamatan dan keamanannya, sekali lagi saya tekankan, hanya oknum saja, ini yang kemudian menghilangkan kekhawatiran para penyedia layanan dan pelaku bisnis, tidak menutup kemungkinan oknum tadi juga mengambil keuntungan. Seakan terjadi simbiosis mutualisme yang sudah menjadi sebuah sistem, sistem baru yang belum diketahui keabsahannya. Implikasi seksualitas yang mendekati angka kesempurnaan.

Perihal yang hampir sama juga menyentuh ranah seksologi, dalam arti ia juga memasuki ruang publik. Seksologi lebih kepada model pendidikan yang masuk pada sistem pembelajaran dan transfer pengetahuan formal, bahkan kini ada program studi tertentu yang menjadikan seksologi sebagai salah satu mata kuliah wajib. Seksologi lebih membahas apa, bagaimana, kapan, dan siapa yang menjadi pelaku seks, ini lebih jauh masuk ke ranah aturan main yang di kompilasi menjadi sebuah etika dan nilai estetika. Mahasiswa diharapkan mengetahui dan paham bahwa seksualitas merupakan hal yang wajar dan penting, tetapi bukan berati pula seks bisa dilakukan kapan saja, dimana saja dan kepada siapa saja. Seks juga selayaknya sudah dipahami untuk memenuhi kebutuhan tetapi tetap mengandung unsur-unsur yang sesuai dengan konstruksi sosial dan nilai religiusitas. Oleh karena itu, seksologi dapat menjadi wadah bagi pemahaman mahasiswa mengenai perilaku seks sehat, wajar, dan mendidik. Intinya adalah seks, seksualitas dan seksologi merupakan kata kunci bagaimana memahami persoalan seks dengan berbagai macam perspektifnya, baik secara sosial, budaya, terlebih Agama yang menjadi salah satu case control dan diyakini menjadi sumber hukum dalam aturan seks.

Semoga Bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s