Hormati Gurumu

Posted: 19 Januari 2012 in Pendidikan
Tag:, , , , ,

Guru Oemar Bakri“Hormati Gurumu

 Sayangi Teman,

 Itulah Tandanya

 Kau Murid Budiman” (Pergi Belajar : Ibu Soed. 1943)

 

Penggalan syair lagu diatas telah mengingatkan memori kita pada waktu kecil dulu, dimana menghormati guru, dan menyayangi teman merupakan dua hal yang menjadikan ciri bagaimana seorang murid dapat dikategorikan sebagai murid budiman. Disadari atau tidak , dua hal itu kini sudah mulai terkikis. Rasa yang seharusnya terpupuk dengan baik, sedikit demi sedikit menghilang keberadaannya, entah dikarenakan oleh zaman yang sudah berubah atau memang karena terbentuknya pola pikir seseorang karena lingkungan. Yang jelas, fenomena ini bisa dilihat dari semakin meningkatnya jenjang pendidikan formal yang dilakukan oleh seseorang. Dulu saat masih duduk di taman kanak-kanak (TK) atau PAUD, syair lagu tersebut diajarkan, guru mulai menjelaskan bagaimana cara dan bentuk hormat kepada seorang guru, serta menyayangi sesama temannya, hal ini bisa dipahami saat mereka melakukan apa yang didoktrinkan oleh gurunya. Jika disuruh oleh guru tidak boleh membantah, jika berbicara kepada guru pakailah bahasa yang santun dan tidak boleh bersuara keras apalagi melawan apa yang menjadi keinginan guru dan sebagainya, berbagai macam cara yang di doktrinkan dan diajarkan oleh guru kepada muridnya. Pun juga demikian, guru mengajarkan bagaimana menjadi seorang teman yang baik, sayang kepada temannya, tidak boleh saling bertengkar, dan juga saling berbagi antar sesama, ini dilakukan dengan baik oleh para murid tanpa harus mempertanyakan kenapa, dan memahami lebih jauh apa yang dimaksud dengan hormat dan sayang, atau bahkan kenapa harus demikian kepada guru, dan harus demikian kepada teman. Hal ini berlanjut saat mereka duduk di sekolah dasar (SD), pengimplementasian rasa hormat dan rasa sayang masih melekat erat di pikiran mereka sebagai seorang murid. Naik ke Sekolah Menengah Pertama (SMP), sedikit demi sedikit rasa mulai pudar, mereka sudah mengenal sedikit istilah Geng, tawuran, demo, dsb, secara alamiah mereka tau tanpa harus ada yang mengajarkan sebelumnya. Berkelompok membuat sebuah geng, “menarget” teman dengan cara memaksa, jika tak memberi, konsekwensinya adalah benjut. Murid juga mulai berani melawan guru, mencoba mengkritik guru, sampai mengabaikan apa yang diperintahkan guru. Berlanjut ke Sekolah Menengah Atas (SMA), pengetahuan tentang istilah demo semakin kuat, tawuran antar sekolah mereka lakukan, bahkan tak jarang banyak dari mereka yang sampai meninggal akibat tawuran. Entah apa yang membuat mereka bisa demikian, rasa sayang antar teman sudah sangat pudar, lingkungan yang mencetak, sekolah yang tak memberikan pengawalan, ataukah akibat acara televisi yang membuat mereka “hilang akal”. Bangku SMA adalah masa puber yang tinggi, psikologi yang labil, dan masa transisi menuju kedewasaan, biasanya memang mereka lebih berani mencoba-coba hal-hal yang memang belum pernah dirasakan dan dilakukan sebelumnya. Jangan heran jika anak SMA bahkan sudah berani ngeFly dengan mencicip narkoba, minum-minuman keras, seks bebas, bahkan sampai sudah berani mendemo guru-gurunya dengan alasan tertentu.

Mengkerucut tentang rasa hormat kepada guru, kenyataan bahwa kini anak SMA saja sudah berani mendemo gurunya, mengkritik, bahkan menghujat guru didepan umum, adalah sebuah realita. Pertanyaan yang muncul kini adalah, apa ini akibat model pendidikan di negara kita, ataukah ada hal lain? Sudah barang tentu, salah satunya pasti adalah akibat pendampingan kepada siswa yang kurang maksimal, memahamkan kembali apa itu hormat, apa sayang, siapa guru, siapa teman, dan bagaimana sebaiknya memahami istilah guru juga fungsi guru, dan lain sebagainya. Ini sangat terlihat sepele, tetapi ini adalah suatu hal yang sangat penting. Sampai akhirnya kenyataan tersebut terbawa sampai mereka duduk di bangku kuliah atau perguruan tinggi, dimana demokrasi sangat di hormati, kebebasan berpendapat diagung-agungkan, dan berpikir liberal dianggap wajar. Menjadi mahasiswa merupakan kebanggaan tersendiri, dianggap sudah lebih tau, berpengetahuan lebih, dan bisa belajar sendiri tanpa harus ada guru (otodidak) sebagai penjembatan dan mediator transfer ilmu. Nah, ini juga sedikit berpengaruh akibat sikap dan pola pikir mahasiswa yang demikian, mereka menganggap bisa mendapatkan ilmu walaupun tanpa harus ada guru, pada akhirnya, mahasiswa sedikit demi sedikit mulai menghilangkan eksistensi dosen sebagai seorang guru. Bagaimanapun juga peran seorang guru sangatlah penting, tidak ada guru semuanya akan “kosong”. Barangkali kita perlu penyegaran kembali tentang siapa yang pantas kita sebut guru, bagaimana peran dan fungsinya, serta bagaimana pula kita sebaiknya bersikap dan memperlakukan guru.

  1. 1.      Guru sebuah definisi.

Guru adalah orang yang pekerjaannya mengajar´ (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001: 288),sedangkan pamong mempunyai arti ³pendidik atau pengasuh´ (Kamus Umum Bahasa Indonesia , 1976: 700). Secara terminologi, guru sebagaimana dijelaskan oleh WJS. Poerwadaminta dalam kamus umum bahasa indonesia adalah “orang yang mendidik”. Pengertian ini menberi kesan bahwa pendidik adalah orang yang melakukan kegiatan dalam bidang mendidik. Dalam bahasa inggris (Jhon M Echols Dan Hasan Shadily, Kamus Bahasa Inggris-Indonesia) dijumpai pula beberapa kata yang berdekatan artinya dengan pendidik, seperti teacher yang di artikan dengan guru atau pengajar dan tutor yang berarti guru pribadi atau guru yang mengajar dirumah. Pun demikian dijumpai dalam bahasa arab (Hans Wehr, A Dictionary of Modern Written Arabic) kata ustadz yang berarti teacher (guru) atau professor (gelar akademik = guru besar), mudarris yang berari teacher (guru) atau instructor (pelatih) dan lecturer (dosen), muallim yang juga berarti teacher (guru) atau instructor (pelatih), serta trainer (pemandu) dan juga kata mu’adib yang berartieducator (pendidik).

Dilihat dari beberapa definisi diatas secara keseluruhan mengacu kepada seseorang yang memberikan pengetahuan, keterampilan atau pengalaman kapada oran lain. Berdasarkan ruang gerak dan lingkungan dimana ilmu atau ketermpilan itu diberikan, sering dibedakan pengistilahannya, untuk disekolah disebut teacher, di perguruan tinggi disebut lecturer dan professor, dirumah pribadi disebut tutor atau private teacher , sedang ditempat pelatihan disebut instructor atau trainer dan di lembaga-lembaga pendidikan yang mengejarkan agama disebut ustadz atau dalam bahasa inggris disebut educator. Kesemuanya adalah satu, bermakna guru.

  1. 2.      Siapa dan bagaimana

Dalam kitab Ta’limul Muta’allim, karena tugas guru yang begitu mulia dan mendapat penghormatan yang tinggi, Sayyidina Ali bin Abi Tholib ra menyatakan “Aku adalah budak seseorang yang mengajarkanku walau satu huruf, jika ia berkehendak menjualku, melepaskan, dan tetap menjadikanku budak (itu adalah hak mereka)”, dari ungkapan diatas mengisyaratkan bahwa seseorang yang disebut guru adalah mereka yang telah mengajarkan sesuatu meskipun hanya satu huruf saja, bayangkan kita yang telah banyak mendapatkan beberapa huruf dari seseorang, sangatlah pantas jika kita sebut guru. Kedua, sayyidina ali menyebutkan bahwa ia adalah seorang budak bagi yang telah mengajarkan sesuatu kepadanya, ini juga mengisyaratkan bahwa bagi seorang murid tentang bentuk kepasrahan dan kepatuhan kepada guru, apapun yang dilakukan dan diperintahkan. Guru dalam istilah jawa adalah “di gugu dan di tiru” artinya adalah ia yang selalu menjadi contoh dan dipanuti, berarti tidak sekedar hanya mengajarkan, lebih jauh ia harus menjadi Uswah (contoh) yang baik, sesuai norma sosial, agama, budaya dan sebagainya. Artinya, saat ia akan mengajarkan sesuatu atau memerintahkan sesuatu, terlebih dahulu ia harus sudah melakukan dan mencontohkannya terlebih dahulu. Disinilah sinergi mengapa sebagai seorang murid harus taat dan selalu patuh apa yang diperintahkan oleh guru. Dalam ungkapan jawa juga di katakan “ojo ngelawan nang guru, ndak kualat (jangan melawan kepada guru, supaya tidak terkutuk)”, seakan-akan juga mengisyaratkan bahwa guru tidak hanya sekedar mengajar, memberi contoh ataupun memerintah baik, akan tetapi juga bagaimana seharusnya kita bersikap, cara memuliakan, dan menempatkan seorang guru.

  1. 3.      Perspektif Islam tentang bagaimana seharusnya menempatkan guru oleh seorang murid

Dalam kitab Ta’limul Muta’allim juga di sebutkan

اعلم بأنّ طالب العلم لاينال العلم ولا ينتفع به الاّ بتعظيم العلم واهله وتعظيم الاستاذ

“ketahuilah, bahwasanya seorang pencari ilmu (siswa, mahasiswa, murid, santri, dsb) tidak akan memperoleh ilmu dan tidak dapat mengambil manfaat dari ilmu kecuali hanya dengan memuliakan ilmu dan pemiliknya (pengarang/penulis), juga memuliakan guru”

Jika kita cermati maknanya lebih dalam, di situ tersirat bahwasanya kesuksesan seorang murid tergantung kepada sosok guru, para pencari ilmu (baca:murid) tidak akan mendapatkan ilmunya saat kehormatan atau ke-ta’dzim-an diabaikan, juga tidak akan pernah bisa untuk mendapatkan sebuah kemanfaatan dari ilmu tersebut selama ia tidak mau menghormati ilmu itu sendiri, juga kepada pengarang atau penulis bahkan kepada yang mengajarkan ilmu dalam hal ini adalah guru. Artinya, jika seorang murid sudah berani melecehkan atau merendahkan keagungan pengetahuan sebagai sebuah ilmu, sudah pasti ia tidak akan pernah memperoleh apapun dari ilmu, pun demikian kepada pengarang maupun guru. Bahkan diungkapkan pula dalam kitab tersebut bahwa “seseorang tidak akan pernah pernah kafir yang disebabkan oleh maksiat, tetapi ia akan kafir disebabkan karena meninggalkan hormat”, mudahnya seperti ini mengapa diungkapkan demikian, dianalogikan kepada  keimanan kita terhadap Tuhan, jelas kita tidak akan kafir hanya karena kita sebagai pendosa yang banyak maksiat, akan tetapi kita akan kafir jika kita sudah “berani” merendahkan Tuhan (wal’iyaadzu billah). Nah, disinilah para pembaca juga dapat menyimpulkan sendiri bagaimana seharusnya kita sebagai murid harus memposisikan guru sebagai seorang yang sangat dihargai dan dihormati.

Semoga pembaca dapat mengambil maksud apa yang telah sedikit saya gambarkan dari tulisan yang sangat sederhana ini. Penulis belum berani untuk “menggiring” para pembaca menuju sebuah the final result, karena keterbatasan penulis akan pengetahuan tentang ini, juga keobjektifitasan penulis dalam memahami konteks realita. Penulis berharap adanya masukan dan tentunya kritik atas coretan ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s